Cahyadi Basfain, Pemuda “Tarakan” Yang Dituakan

51 views

Nama lengkapnya Cahyadi Basfain atau biasa dipanggil Adhi or Abang (Ucha kayaknya yg suka panggil dengan sebutan ini). Berasal dari Kabupaten Sengkang tapi sudah lama bermukim di Makassar, tepatnya di Jalan Tarakan. Makanya saya sebut Pemuda “Tarakan” yang bukan berarti dia berasal dari salah satu daerah di Kalimantan tapi diambil dari nama jalan tempat dia tinggal.

Cahyadi Basfain

Cahyadi Basfain

Trus kenapa mesti Adhi Yang Dituakan? Makna yang dituakan bisa berarti dia cukup banyak pengalaman dan sudah berumur. Toh, memang menurut saya dia orangnya udah tua kok diantara teman angkatan yang laen. Maklum Adhi ini lahir di Makassar, 03 November 1986 yang artinya dia lebih tua 2 tahun daripada umur rata-rata anak STONE yang lain. Istilahnya sih dia lebih senior daripada kita-kita coz dia udah lulus SMA saya baru naik kelas 2 SMA dan lebih parahnya lagi ternyata Adhi pernah jadi panitia MOS salah satu anak STONE yg lain karena kebetulan mereka satu sekolah di SMA Negeri 1 Sengkang dan juga Adhi memiliki teman angkatan waktu SMA dan kebetulan udah senior di Sosek Pertanian Unhas angkatan 2004. Hmmm, wajar kan kalo pemuda yang satu ini dituakan.

Tapi, sebenarnya sih klo dari segi umur bukan Adhi kok yang paling tua tapi kakanda Arman yang masih lebih tua daripada Adhi karena mereka terpaut 10 bulan. Lagian juga kalo dari segi face yaa Arman sih masih kalah dewasa dibanding Adhi yang berwajah lebih dewasa dengan ukuran tubuh yang relatif proporsional (sudahmi pasti kalian setuju toh klo Adhi memang pantas Dituakan, hehehe). Yang Dituakan juga sih bukan saja diliat dari umur tapi juga pengalaman, khususnya dalam bidang olahraga sepakbola. Maklum lagi nih abang kita yang satu ini adalah Kapten Tim STONE saat bertanding di Kejuaraan SOSEK CUP (saya ingat sekali klo Kapten Adhi amat sangat jengkel pada salah satu rekan tim STONE yang melakukan blunder krn nyetak bola ke gawang sendiri, bukan karena blundernya tapi karena senyuman yang mengembang dari wajah pemain yang bunuh diri tersebut, hihihihi).

Saya jadi teringat pengalaman seru tentang Adhi yang datang tiba-tiba ke rumah beberapa jam setelah Idul Adha. Saya kira mau silaturahmi trus makan daging kurban pembagian dari masjid hehehe, ternyata dia suruh saya berkemas dan mengajak saya mengikuti TUR BUGIS MAKASSAR yang memang udah direncanakan ma teman-teman yang lain. Padahal nggak ada rencana tuk ngikut sebelumnya, Adhi tiba-tiba ngajak pergi, teman-teman yang lain pun bingung juga ada apa gerangan. Cek per cek sebab musabab Adhi langsung memutuskan tuk berangkat ngikut tur tersebut sedikit banyak yang mempengaruhinya adalah karena masalah cinta (adduuuhhh, anak muda jaman sekarang cinta-cinta terusssss). Dan sepanjang perjalanan yang menempuh jarak 975 KM (menurut speedometernya om buzz) Adhi tidak henti-hentinya tuk curcol (curhat colongan) baik pada saat kita singgah di rumah temen, pinggir jalan, tempat mangkal ojek bahkan lebih banyak diatas motor yang diselingi dengan suara kendaraan, pemandangan hijau dan gersang, semilir angin serta debu-debu jalanan semakin menambah porsi curcol Adhi diatas motor (ballassi yang boncengki waktu itu, penuhki telinganya dengan curcol, hehehe).

Parahnya lagi nih, saat kita berkunjung ke Pantai Bira yang terletak di Kabupaten Bulukumba, Adhi tidak lagi curcol tapi langsung ke TKP (eh, maksudnya langsung ke objeknya) Adhi langsung nulis nama wanita yang dia maksud saat dia curcol dengan menggunakan ranting pohon dan ditulislah namanya di atas pasir putih pantai bira dan langsung minta di jepret oleh sang kameramen (mungkin ini mau dikasih jadi sogokan atau hadiah buat si cewek, hehehe). Foto yang sangat mungkin menggambarkan suasana hati sang Pemuda “Tarakan” saat itu (bagi yang mau liat fotonya tolong konfirmasi ma orangnya langsung, nantika dimarahika, hihihi). Kalau mau diceritakan tentang isi curcolnya Adhi selama tur sih pasti bikin capekka ngetik dan sebenarnya sih inti curcolnya tersirat dalam sebah lagu dengan lirik mendalam dari salah satu band dan paling sering dinyanyika waktu tur yakni “SANG MANTAN”. Pasti kalian tau kan lagunya gimana dan paling penting sih menurut saya lagu tersebut menggambarkan dan mewakili suasana hati sang Adhi saat itu.

“Dulu aku kau puja…. Dulu kau sayang…. duluakukaupuja… yangselaluengkaucinta…. kinirodatelahberputar….”

“kiniakukauhina… kiniakukaubuang… jauhdarihidupmu… kiniakusengsara…
rodamemangtelahberputar….”

“manajanjimanismu… mencintaikusampaimati… kiniengkaupunpergi
saatkuterpuruksendiri…. akulahsangmantan”

Sepenggal lirik yang mendalam dan menyentuh hati SANG MANTAN. But, kalo kalian memang berjodoh pasti TUHAN akan memberikan jalan untuk mempersatukan kalian kembali. Yakin saja kalau TUHAN akan memberikan yang terbaik bagi hambanya.

Cukup sampe disini dulu tulisan tentang sosok STONE PEOPLE kali ini yang bercerita tentang Cahyadi Basfain, Pemuda “Tarakan” Yang Dituakan. Sekali lagi, ini cuma pandangan secara garis besar saya tentang teman-teman STONE yang saya banggakan. Tunggu cerita tentang sosok STONE PEOPLE selanjutanya hanya di berbagi cerita. Ini ceritaku, mana ceritamu?

Baca Juga : Hikma, Semanis Orangnya Seindah Maknanya