Inikah Namanya Mudik

60 views

Bertepatan dengan tujuh belasan tanggal kemerdekaan Republik Indonesia saya siap berangkat menuju kampung halaman (sebenarnya sih Makassar nggak cocok disebut sebagai kampung halaman harusnya kota halaman, hehe). Yup, jadi saya nih ceritanya bukan pulang kampung tapi pulang kota. Untuk pertamakalinya dalam hidup saya ngerasain yang namanya mudik krn selama sekolah dan kuliah semuanya di Makassar. Nah, katanya mudik itu sangat berkesan karena banyak hal yg harus dilalui dan menantang seperti menembus kemacetan yang mengular, lautan manusia dipelabuhan dan bandara yang penuh dengan pemudik.

Mungkin sebenarnya saya nggak terlalu merasakan yang namanya mudik soalnya saya nggak berhadapan dgn kemacetan, antrean yang panjang bgt plus lautan manusianya. Kebetulan saya mudik dari Kota Baubau menumpang pewawat. Yah, banyak sih hal-hal baru yang baru sy dapati di Bandara Betoambari, Kota Baubau saat sy pulkam. Mulai dari barang bawaan yang hapir dibongkar gara2 sy bawa cairan pengkilap, proses check ini yang singkat plus cek list daftar penumpang yang masih manual kyk absensi siswa, boarding pass yang masih tulis tangan dan lebih penting lagi barusan naik pesawat yang menggunakan baling-baling.

Kecil memang pesawatnya plus bisingnya suara baling-baling, tapi Alhamdulillah kita semua selamat sampai tujuan. Dan inilah moment terindah saat mudik yaitu ketemu dan berkumpul lagi dengan keluarga besar yang biasanya cuman bisa telpo2nan. Melihat keponakan yang sudah besar semua dan yang penting lagi sudah bisa lihat dan merasakan suasana mall, bioskop dan tempat wisata lainnya yang belum ada di Kota Baubau. Well, inilah sikit cerita mudik “first time” yang takkan terlupakan 😀