Menjalani Peran Sebagai Kakak Sekaligus Orangtua

44 views

Peran merupakan suatu perwujudan dari karakter yang harus disesuaikan dengan pribadi yang menjalaninya. Karakter tersebut haruslah sesuai dengan peran yang dijalani baik itu sesuai dengan kenyataan atau harus terpaksa menjalani peran layaknya aktor yang harus menyesuaikan diri dengan skenario ataupun arahan dari sang sutradara. Itu sih mungkin hal biasa, yang luar biasa kalau kamu bisa menjalani peran sesuai karakter yang telah ditentukan oleh Sang Pencipta alias Tuhan Yang Maha Esa.

Mungkin seperti itulah kehidupan atau cerita yang dibuat Tuhan untuk kehidupan saya saat ini. Tanpa bisa diperhitungkan dan tanpa skenario atau petunjuk dari Yang Diatas saya harus berjuang tanpa henti untuk melakoni dua peran yang membawahi karakter seorang kakak bagi saudaranya dan sekaligus sebagai orangtua. Untuk peran sebagai kakak, itu mungkin memang sudah harus saya terima karena saya memang anak pertama dari tiga bersaudara yang harus lahir duluan. Tapi, bagaimana dengan peran sebagai orangtua. Mampukah saya menjalaninya?

Peran sebagai orangtua saya jalani “seutuhnya” mulai dari akhir tahun 2010 lalu. Sebenarnya dan seharusnya saya jalani peran ini mulai dari 6 tahun yang lalu, saat Tuhan YME mulai memberikan peran tersebut untuk menggantikan Ayah saya yang wafat karena sakit untuk menyusul Ibu yang duluan wafat 6 tahun lebih cepat dari Ayah, tepatnya tahun 99. Saat itu saya kelas 2 SMA, dan saya tidak tahu apapun tentang mengurus adik saya sekaligus mengurus harta dan peninggalan orangtua. Syukur Alhamdulillah masih ada keluarga dari pihak Ayah dan Ibu yang mau mengurus semuanya.

Namun, saya kan tidak boleh bergantung terus dari keluarga lain sepenuhnya dan saya harus bisa mulai mengurus adik saya sendiri. Ibaratnya saya udah nikah trus dikarunia 2 anak (emang sungguh berat perjuangan menjadi Ayah dan Ibu sekaligus, ya saya jalani aja sebelum menjabat sebagai kepala keluarga betulan :D). Oleh karena itu, saya bertekad untuk menjalani peran itu sebaik mungkin. Alhamdulillah, setelah lulus kuliah saya diterima di salah satu perusahaan finance di Jakarta. Tapi hanya 3 bulan saya bertahan dan harus balik lagi ke Makassar karena ada masalah dengan adik saya yang tak lulus SNMPTN di Universitas Hasanuddin. Saya pun harus keluar bekerja karena adik saya memang prioritas pertama daripada kerjaan. Setelah diperjuangkan, adik saya akhirnya kuliah juga walaupun di Universitas swasta. Tapi, yang penting saya sudah perjuangkan untuk adik saya melanjutkan studinya dengan biaya kuliah pertama dari gaji 3 bulan plus bantuan keluarga 😀

Mulai saat itu saya pun lebih intensif untuk mengurus keperluan adik-adik saya sekaligus keperluan saya sendiri. Saya juga mulai belajar untuk mengurusi harta peninggalan orangtua dengan cara mengumpulkan aset orangtua dan memutar otak supaya bisa berguna. Salah satunya, saya sudah mulai mengurusi rumah peninggalan orangtua dengan mengontrakkannya kepada orang lain sehingga bisa menambah biaya pendidikan adik-adik saya. Saya juga masih harus memperjuangkan diri saya sendiri agar saya bisa membuat atau paling tidak mendapatkan pekerjaan yang sudah bisa menopang kehidupan kami.

Sampai saat ini saya masih berjuang tanpa henti untuk menjalani peran tersebut, berusaha sekuat tenaga, berdoa dan tak lupa mensyukuri nikmat Tuhan yang memberikan tantangan kehidupan disaat yang lain mungkin belum diberi peran seperti saya. Perjuangan tanpa henti harus terus saya jalani dengan penuh keikhlasan dan tanggung jawab karena Tuhan tidak akan memberikan cobaan yang tak bisa dipecahkan oleh hambanya.

Berjuang, berjuang dan berjuang menjalani hidup dengan peran ini tanpa harus ada penyesalan karena penyesalan hanya akan membuat hidup kita terkurung dalam keputusasaan. Perjuangan tak kan pernah berakhir sebelum Tuhan memanggil kita ke sisi-Nya dan alangkah indahnya jika banyak orang yang tersenyum sebagai akibat yang ditimbulkan oleh perjuangan kita dan membuat kehidupan pribadi dan orang disekitar kita bisa hidup dalam penuh kebahagiaan.

Baca Juga : Impian itu Ternyata Memuakkan