Semangat di Awal, Loyo di Penghujung Ramadan

94 views

Alhamdulillah, Marhaban Ya Ramadan. Syukur alhamdulillah diri ini masih diberikan kesempatan untuk bertemu dengan bulan yang penuh berkah bulan ramadan bulan yang penuh dengan pahala yang berlipat ganda.

Yah untuk keempat kalinya atau tepatnya memasuki tahun ketiga di tanah rantau sulawesi tenggara saya masih dan masih menikmati bulan ramadan di tempat yang berbeda. Tahun lalu sy berbulan ramadan di tanah Pulau Buton tepatnya di Kota Baubau. Tahun ini saya diberi kesempatan untuk merasakan puasa ramadan di tanah Mekongga tepatnya di Kab. Kolaka.

Tadi subuh Alhamdulillah sahurnya tepat waktu alias menghampiri imsak hehehe. Tahun lalu waktu masih di Baubau saya tinggal bersama seorang teman yang sudah berkeluarga di rumah dinas jadi waktu mau sahur maupun berbuka puasa tinggal makan saja karena semua telah tersedia.

Tahun ini saya pindah tugas di Kolaka dan harus kembali merasakan tinggal sendiri di kosan. Tak ada lagi yang nyiapin makanan buat sahur maupun berbuka. Inilah yang menjadi beban tersendiri. Kalau masalah berbuka puasa mah gampang karena banyak warung yang buka. Namun yang pusing nyari makan sahur karena cuma sedikit warung makan yang buka 24 jam. Itupun kalau ada pasti cuma hidangan Nasi Kuning atau Sari Laut saja.

Yah namanya lagi sendiri di kampungnya orang mesti pintar2 menyiasati hal sedemikian rupa. Oia, yang selalu membanggakan pada tiap daerah pasti tuh kalau di awal ramadan dari anak-anak sampai kakek-nenek lagi ramai-ramainya ke Masjid buat shalat berjamaah utamanya pas sholat subuh, sholat maghrib terlebih pada saat sholat taraweh.

Wihhh masjid tuh keliatan ramai banget. Orang2 pada penuhin masjid. Alhamdulillah kalau seandainya fenomena ini bukan hanya terjadi pas di bulan ramadan saja tapi di bulan-bulan lainnya hendaknya kita juga meramaikan masjid dengan sholat berjamaah.

Semua orang kayaknya larut dengan keberkahan menyambut bulan ramadan. Semua orang pada semangat ke masjid untuk sholat berjamaah. Namun, kalau kita mau melihat kebelakang alias melihat fenomena seperti ini memang sering terjadi di awal ramadan tiap tahun. Tapi kalau dicermati hal demikian yang menyangkut semangat orang-orang untuk beribadah dan sholat berjamaah di masjid paling lama tuh hingga 2 minggu saja di bulan ramadan.

Kalau sudah memasuki minggu ketiga dan apalagi minggu keempat maka semangat untuk beribadah di bulan ramadan akan semakin loyo. Tak bisa dipungkiri memang karena hal ini saya juga mengalaminya. Kalau sudah minggu terakhir di bulan ramadan tuh pikiran bukan lagi fokus buat beribadah tapi sudah fokus buat balik ke rumah alias mudik hehehe

Padahal kata ustadz yang ceramah tadi subuh tuh keutamaan bulan ramadan terletak di penghujung ramadan apalagi katanya malam lailatul gadri berada diantara 10 malam terakhir ramadan. Makanya sang ustadz mengatakan kita harusnya meminjam prinsip para joki pacuan kuda dimana jika sudah mau mencapai garis finish maka para joki tersebut semakin mempercepat laju kuda mereka.

Sama halnya dengan kita dalam beribadah di bulan penuh berkah ini yang seharusnya kita semakin semangat beribadah di penghujung ramadan untuk mendapatkan amal yang berlimpah karena belum tentu tahun depan kita masih bertemu dengan bulan ramadan. Semoga postingan di awal ramadan ini bukan hanya postingan semangat yang bersifat sementara tapi jadi media pengingat dan pembelajaran jikalau kita harus lebih bersemangat lagi beribadah hingga di penghujung ramadan. Semoga kita semua dimudahkan olehNya. Amin. #salamucok 😀