Izinkanlah Petani Jadi Kaya

90 views

petani-panen

Kok nggak ada petani di kota yaa? Kok petani rata-rata pendidikannya rendah? Kok petani rumahnya kebanyakan mirip gubuk? Kok, Kok, dan Ayam berkokok pun menjawabnya dengan suara yang memekakkan telinga bahwa memang begitulah kehidupan sebagian atau bahkan hampir seluruh petani di Indonesia. Kita sering mendengar istilah petani gurem. Awalnya, saya mengira bahwa petani gurem itu adalah petani yang sudah mapan dan sukses karena kebanyakan petani kita itu terkurung dalam istilah ini. Dan ternyata petani gurem itu adalah petani yang hanya mempunyai lahan kurang dari 0,5 Ha. Sudah lahannya nggak cukup sehektar, eh masih dibawah setengah hektar lahan petani kita. Bahkan banyak petani yang nggak mempunyai lahan, mereka hanya bekerja sebagai penggarap, penyewa, penyakap ataupun menjadi buruh tani yang upahnya masih nggak bisa diharapkan sepenuhnya. Ya jelaslah nggak bisa diharapin upahnya, yang bayar kan petani juga. Jadinya serba pas-pasan dong.

Kenyataannya memang demikian kehidupan petani kebanyakan di negara ini. Apa yang menjadi masalah sehingga kehidupan petani kita menjadi seperti ini? pertanyaan ini seringkali didengungkan di bangku kuliah. Kalau menurut pengamatan seseorang, hal ini diakibatkan oleh banyak hal, mulai dari masalah internal atau petani sendiri, masalah kebijakan pemerintah, dan tengkulak menjadi permasalahan terbesar yang harus dihadapi petani. Mengapa tengkulak? karena tengkulak lah yang memiliki peranan paling penting dalam rantai pemasaran hasil pertanian. Tengkulak sering mempermainkan harga beli hasil petani. Misalnya, petani sudah panen dan berhasil mendapatkan produksi gabah sekian karung. Kemudian petani pergi ke pabrik penggilingan yang pembayarannya dilakukan dengan sistem tukar atau tidak dibayar dengan uang melainkan dibayar dengan beras hasil gilingan dari gabah petani. Hal ini pasti, karena biasanya petani nggak punya uang untuk bayar pabrik penggilingan tersebut, otomatis bayarnya pakai beras.

Nah, setelah digiling dan menjadi beras siap konsumsi datanglah tengkulak menawarkan harga beli kepada petani. Tengkulak itukan pedagang, dan tidak akan ada pedagang yang mau rugi. Oleh karena itu, tengkulak membeli beras petani dengan harga dibawah harga pasar. Katanya tengkulak sih, buat ganti ongkos transportasi dari desa ke pasar. Akan tetapi, harga bali beras petani terlalu rendah, sehingga petani kita hanya mendapatkan sedikit bagian dari hasil jerih payah mereka seleama berbulan-bulan dan inilah salah satu faktor yang menjadi penyebab petani kita miskin penghasilan. Kalau kalian bisa menganalisa tulisan ini, sebenarnya penyebab petani sehingga tidak beranjak dari kemiskinan adalah karena dirinya sendiri, seperti yang saya sebutkan sebelumnya selain kebijakan pemerintah tentunya.

Klo begitu, kalian bisa renungkan terlebih dahulu atau bertanya-tanya sendiri mengapa hal ini bisa terjadi?? Menurut saya, karena memang begitu adanya. Terus alasan lain petani miskin kan masih ada penyebab lainnya, yaitu karena petani sendiri dan kebijakan pemerintah. Okelah, nanti saya lanjutin ya tulisannya. Kalau dibahas nanti kepanjangan ceritanya dan nggak nyambung lagi dengan pokok permasalahan. Sekalian saya mau nanya petani dekat rumah saya lagi, hitung-hitung nambahin cerita saya selanjutnya. Maaf yaa sudah buat kalian penasaran dan mengeluh. Maaf sekali lagi yaaa. Pasti saya lanjutin kok ditulisan saya berikutnya.