Regenerasi Petani Indonesia, Siapa Mau Jadi Petani?

1228 views

Sadar atau tidak, saat ini regenerasi petani jarang bahkan tidak pernah kita bahas di kalangan orang yang tinggal di pusat kota maupun di pinggiran kota, padahal sangat berpengaruh terhadap keberlangsungan hidup bangsa Indonesia. Kenapa bisa? Yah karena kalau tidak ada petani maka siapa yang mau mengolah sawah dan menanam padi sampai jadi gabah? Memangnya mesin bisa melakukan semuanya, tidak juga keles hehehe…..

Pernyataan bahwa ‘anak-anak muda zaman sekarang tidak ada yang mau menjadi petani’ didukung oleh fakta bahwa anak-anak petani lebih diharapkan mendapatkan pekerjaan yang lebih baik daripada menjadi petani. Nah, siapa lagi yang mau menjadi regenerasi petani yang diharapkan dapat menyediakan beras dan bahan pangan pokok lainnya untuk penduduk Indonesia yang semakin meningkat jumlahnya?

Daripada menjadi petani yang tidak memiliki tanah, lebih baik menjadi pedagang. Kita harus bekerja sejak pagi jika kita menyewa tanah dari orang lain. Kalau kita berangkat ke sawah siang hari bisa jadi kita ditegur dan malu jika pemilik tanah melihat kita. Lain halnya kalau sawah itu punya kita sendiri, kita bisa berangkat kapan pun sesuka hati apalagi kalau kita punya keperluan dan kadang-kadang malas maka kita tidak terbebani harus kerja karena kita sendiri yang punya sawah tersebut. -hasil wawancara anak petani oleh yayasan AKATIGA dan Ben White-

Hambatan Regenerasi Petani

Kegagalan panen, cuaca yang tidak menentu dan fluktuasi harga merupakan resiko pekerjaan yang harus kita hadapi jika bekerja sebagai petani. Padahal mata pencaharian utama bagi masyarakat pedesaan sampai sekarang masih di seputar pertanian khususnya pertanian skala kecil.

Regenerasi Petani Mengolah Lahan

Banyak pemuda yang orangtuanya seorang petani tetapi hanya sebagai penyewa bahkan cuma penggarap dimana setiap panen mereka harus bagi hasil dengan pemilik sawah. Orangtua mereka harus bekerja susah payah, sang pemilik tanah tinggal menerima hasilnya. Maka wajarlah petani berharap anaknya tidak seperti mereka, sebagai anak pastilah sudah merasakan juga menjadi petani dengan membantu orantuanya dan pasti punya harapan untuk
mendapatkan pekerjaan yang lebih baik.

Selama petani tidak memiliki sawah sendiri maka sulit untuk menjadi petani sukses. Parahnya lagi lahan persawahan yang ada di desa sebagian besar pemiliknya bukan penduduk lokal setempat.

Petani pemilik yang punya lahan sendiri dan diolah sendiri jumlahnya tidak mencapai setengah dari jumlah seluruh petani yang ada. Petani yang tidak memiliki lahan jumlahnya terus bertambah. Hanya anak muda yang orangtuanya memiliki sawah yang luas dan berasal dari keluarga kaya yang punya kesempatan untuk memiliki tanah saat mereka masih muda.

Jika pemuda tersebut menikah atau orangtua mereka meninggal maka mereka berharap memiliki lahan sawah pembagian atau peninggalan orangtuanya tersebut. Akan tetapi, secara umum pemuda desa dari keluarga kaya tersebut lebih memilih untuk melanjutkan pendidikan di bangku perkuliahan dan berharap setelah sarjana mendapatkan pekerjaan yang memberikan gaji tetap dan lahan sawah pembagian orangtuanya akan diolah oleh buruh tani dan menjadi sumber pendapatan melalui sistem sewa atau bagi hasil. Tanpa harus pergi ke sawah, mereka tetap bisa menghasilkan uang. Apalagi kalau nama mereka terdapat pada daftar penerima manfaat beras RASKIN maka mereka tak perlu cemas dengan masalah beras karena ada bantuan dari pemerintah.

Baca juga artikel : Potensi Masalah Voucher Pangan Pengganti RASKIN

Di sisi lain, orangtua petani yang mempunyai sepetak lahan sawah kecil tidak mungkin memberikan sawah tersebut untuk diolah oleh anaknya yang masih muda. Kemungkinan anaknya mewarisi sepetak tanah tersebut saat mereka berusia sekitar 40-50 tahun ketika orangtua mereka tak sanggup lagi mengolah lahan tersebut.

Padahal anak petani tersebut ingin tetap menjadi petani membantu orangtuanya mengolah sawah tetapi karena lahan mereka kecil maka pilihannya cuma menjadi buruh tani atau petani penggarap. Pilihan lainnya bagi pemuda-pemudi ini untuk tetap bisa menjadi petani yakni dengan cara mencari pekerjaan di luar sektor pertanian
bahkan di luar desa (urbanisasi) terlebih dahulu, kemudian berusaha mengumpulkan cukup uang dari hasil kerjanya untuk menyewa atau mebeli sepetak lahan sawah.

Regenari Petani Tanam Padi

Banyak pemuda yang memutuskan untuk merantau dan bekerja di luar desa, luar provinsi bahkan luar negeri misalnya bekerja sebagai buruh perusahaan kelapa sawit di Malaysia untuk mendapatkan pekerjaan yang memberika gaji tetap. Berita baiknya adalah keputusan merantau kaum muda tersebut tidak bersifat permanen.
Artinya harapan regerasi petani itu masih ada karena banyak juga petani yang waktu merantau umurnya masih muda lalu pulang kampung setelah mereka memiliki cukup modal untuk membeli atau menyewa lahan yang masih tersedia di desa mereka.

Saat ini pemerintah menggalakkan program mekanisasi pertanian untuk mengatasi kekurangan tenaga kerja di sektor pertanian. Misalnya dengan memberikan bantuan mesin pemanen padi. Satu mesin pemanen padi yang dioperasikan oleh 2-3 orang bisa menggantikan peran sekitar 30-50 orang yang memanen padi menggunakan sabit.
Begitupun dengan mesin penanam padi yang bisa mengefesienkan pengeluaran untuk tenaga kerja penanam padi.

Regenerasi Petani Panen Padi

Masalahnya adalah saat ini lahan sawah yang ada di Indosesia masih banyak yang berbukit-bukit dan berpetak-petak sehingga masih membutuhkan tenaga kerja orang untuk memanen padi. Masalah lebih besar lagi terdapat pada penggunaan bantuan mesin penanam padi dimana banyak petani yang tidak mengetahui cara penerapan
teknologi pertanian tersebut walaupun sudah diajari. Penyebabnya karena petani-petani kita sudah tua dan banyak yang tak terlalu peduli dengan teknologi baru. Daripada pusing menggunakan mesin penanam padi dan harus bayar tenaga kerja untuk menanam manual maka banyak petani lebih memilih untuk menerapkan sistem tanam hambur benih. Lebih simple dan tidak banyak pengeluaran.

Masalah Pencitraan Petani

Informasi yang banyak beredar sering menggambarkan bahwa kehidupan di desa itu sangat tertinggal dan petani itu identik dengan kemiskinan. Padahal, kehidupan di desa sudah banyak yang berubah. Di banyak desa konektifitas kini sebaik di Kota, sepeda motor dan handphone sudah bukan barang langka lagi bahkan sudah banyak anak petani yang masih sekolah dasar sudah bermain facebook dan menonton video lewat youtube.

Citra petani Indonesia yang kalah jauh dengan citra petani luar negeri menjadi salah satu faktor penghambat regenerasi petani sehingga banyak migrasi kaum muda ke luar desa dan mempengaruhi keputusan mereka untuk menjadi petani. Kehidupan pedesaan dan pertanian harus dibuat lebih menarik bagi kaum muda, jika kita masih menginginkan di masa depan kebutuhan beras dan pangan lainnya dipenuhi oleh petani kecil bukan oleh petani besar negara lain.

Sebenarnya banyak generasi muda yang dengan senang hati menjadi petani tapi tidak memiliki kesempatan untuk melakukannya, salah satunya karena faktor lahan sedangkan ada orang yang bisa menjadi petani tapi mereka lebih menginginkan bekerja di bank atau di perkantoran dengan gaji tetap. Akankah penerapan mekanisasi pertanian menjadi solusinya? Saya rasa tidak mungkin mesin bekerja sepenuhnya di sektor pertanian, tetap butuh seorang petani. Jadi, kedepannya siapa yang mau bekerja di sawah?

Demikianlah permasalahan regenerasi petani ini saya buat dari berbagai sumber dan pendapat pribadi. Semoga kita tak lagi membuang-buang nasi atau menyisakan makanan dan harus berakhir menjadi kotoran di tong sampah karena menghasilkan bulir-bulir padi yang siap panen dan mengolahnya sampai jadi beras bukanlah pekerjaan mudah.

Terima kasih telah membaca artikel yang saya buat, mohon bagikan/share tulisan ini di facebook atau twitter Anda jika sekiranya dapat memberi informasi dan manfaat untuk orang lain #salamucok 😀