Explore Bambaea Kab. Bombana

193 views

Hari jumat tanggal 10 oktober 2014, tak seperti biasanya jadwal bersantai akhir pekan ke kendari mendadak harus di ubah. Penyebabnya karena seorang teman memperlihatkan sebuah gambar di akun instagramnya yang mirip Grand Canyon tapi terletak di tanah daratan Sulawesi Tenggara tepatnya di Pajongan, Bambaea Kab. Bombana dan letaknya lumayan jauh dari tempat tugas saya sekarang yang terletak di Kab. Konawe. Yah, berhubung belum pernah kesana akhirnya kami memutuskan untuk berakhir pekan dengan melakukan touring yang kira-kira memakan jarak tempuh sekitar 500 km. Dan karena perjalanan ini serba mendadak maka tak banyak persiapan yang saya lakukan dan hanya membawa pakaian seadanya dan bersiap memulai petualangan dengan menggunakan motor matic hahaha………..

Sekitar pukul 17.00 Wita kami memulai perjalanan panjang ini dengan rencana pertama untuk menginap di kosan teman yang terletak di Kab. Kolaka yang berjarak sekitar 110 km dari Kab. Konawe. Alhamdulillah setelah berjuang melawan jalan yang gelap dan sunyi ditambah udara dingin yang menusuk akhirnya kami tiba di Kolaka sekitar pukul 19.30 Wita. Tak banyak yang dilakukan di sini berhubung sudah malam kami hanya bersantai di pinggir pantai ditemani dengan minuman sarabba plus pisang epe keju. Nyammm……………. habis makan pulang dan istirahat.

Sabtu, 11 Oktober 2014 pukul 09.00 Wita kami memulai perjalanan dari Kab. Kolaka menuju daerah tujuan di Kab. Bombana. Berhubung kami baru lewat jalan ini maka kami slow saja sambil menikmati pemandangan sepanjang jalan yang nggak ngebosanin karena daerah yang kami lalui ini mulai dari daerah tambang nikel, areal persawahan, pesisir pantai yang pohonnya banyak kelelawar (Baca: Pantai Batman), areal tambak dan kebun kelapa yang berjejer rapi. Sekitar pukul 11.00 wita kami tiba di pintu gerbang Kab. Bombana dan menyempatkan istirahat dan bertanya ke petugas SPBU untuk memastikan kami tidak salah jalan alias kesasar. Dan Alhamdulillah sekitar pukul 12.10 Wita kami tiba di Gudang Bambaea tempat persinggahan kami hari ini.

Rencana hari ini setelah tiba di tempat persinggahan kami langsung istirahat sebentar dan menuju spot Grand Canyon tersebut. Namun rencana tetap rencana yang akhirnya berubah lagi setelah teman yang akan mengantar kami belum tiba hingga habis ashar dan ujung-ujungnya sekitar pukul 16.30 Wita kami baru mulai mencari spot tersebut. Ditemani satpam gudang sebagai guide, kami diajak menuju perbukitan yang mirip dengan bukit teletubbies yang terkenal tersebut. Bedanya cuman disini bukit teletubbiesnya berwarna orange kemerah-merahan akibat cuaca panas dan kering. Dan memang tempat ini terkenal dengan padang savananya.

Bukit Teletubbies

Kami tetap berusaha mencari spot Grand Canyon tersebut, namun kayaknya kami salah jalur atau lebih tepatnya salah tempat. Memang agak susah mencari spot yang dimaksud karena padangnya luas dan jalur bekas sepeda motor yang tak beraturan. Jadinya, kami hanya ke puncak bukit dan berfoto-foto melihat sekeliling bukit yang seperti padang savana yang kritis namun warga setempat tetap menanami bagian bukit yang bisa dimanfaatkan dengan menjadikannya kebun mete. Didaerah ini juga ada peninggalan tentara jepang berupa gua yang katanya difungsikan sebagai bunker. Padang savana yang luas didaerah ini memunculkan asumsi bahwa di tempat inilah tentara jepang mendaratkan pesawatnya.

8e74ffa5f1e13392bc084191b784cbcb_mtf_fpnny_166

Waktu sudah menunjukkan pukul 17.00 Wita dan kami harus bergegas kembali ke tempat persinggahan. Rencana kami yang ingin bermalam minggu di Kasipute (Ibukota Kab Bombana) harus dibatalkan dan memutuskan untuk bermalam di rumah dinas kepala gudang. Dan sepanjang malam kami terus bercengkerama karena di tempat ini nggak ada tv. Oia, di daerah ini cuacanya sangat panas dan banyak sapi berkeliaran. Listrikpun sering sekali mati hingga kami tak sempat nge charge hp yang lowbat. Tempat ini juga sunyi senyap dan kalau harus tinggal disini mesti masak sendiri karena jarang ada penjual makanan. Mau beli martabak saja harus menempuh jarak sekitar 15 km itupun belum tentu dapat hehehehe………

Hari Minggu, 12 Oktober 2014. Pukul 07.00 Wita teman kami yang tugas di Bombana membangunkan kami untuk bersiap-siap melanjutkan acara refreshing. Sebenarnya kami kesini cuma untuk mencari spot Grand Canyon tersebut tapi ternyata rencana perjalanan minggu pagi ini kami diajak jalan-jalan ke Tanjung Beroba dan Kompleks Pekuburan Suku Bajo. Yah, hari ini kami akan naik perahu bermesin tempel milik seorang buruh gudang.

Tanjung Beroba

Tempat pertama yang akan kami kunjungi adalah Tanjung Beroba dan sekitar pukul 10.00 Wita kami tiba di spot ini dan berhubung air laut sedang surut maka perahu di bisa merapat sehingga kami harus jalan kaki. Tinggi air yang hanya selutut meringankan langkah kami cuman harus hati-hati karena banyak ranjau alias bulu babi dan bintang laut. Senang sekali rasanya melihat dan memegang bintang laut yang mirip patrick. Lama sudah saya memimpikan untuk melihat secara langsung bintang laut dan ternyata “patrick” banyak sekali bertebaran di sekitar tanjung ini. Kami hanya jalan-jalan di sekitar pesisir tanjung yang akibat air laut surut banyak sekali kerang laut. Bekas tanaman mangrove pun kelihatan.

d452ad659284e8844215bf97ad3d6781_img_9200

Setelah puas di Tanjung Beroba kami melanjutkan perjalanan ke tempat pekuburan Suku Bajo yang terletak di sebuah pulau yang tak berpenghuni. Kuburannya sih seperti tempat pemakaman pada umumnya, bedanya cuma tempatnya disebuah pulau jadi pengantaran jenazah harus menggunakan perahu. Perjuangan ke tempat pekuburan juga cukup berat karena pesisir pulau berlumpur yang kalau kita jalan tuh kaki kita bisa tertanam didalam lumpur hingga setinggi lutut. Kenapa dikubur di pulau? karena kebanyakan penduduk suku bajo rumahnya tuh berupa rumah terapung di pinggir laut dan satu-satunya komplek pekuburan yang di daratan cuma di pulau tersebut.

3327ae35eabb976b14be030836540111_mtf_fpnny_157

Sekitar pukul 12.00 kami memutuskan kembali dan alhamdulillah selamat sampai daratan. Berhubung perut sudah keroncongan sedari pagi karena belum sarapan, kami dengan lahap memakan menu ikan bakar dan buras di teras gudang. Rasanya maknyus ditambah lagi angin sepoi-sepoi walau masih tetap terasa panas.

Dan sekitar pukul 13.30 Wita kami memutuskan untuk melanjutkan perjalanan kami menuju Kendari. Perjalanan kali ini yang lebih panjang harus dilalui dibawah terik matahari yang menyengat. Kami sempat singgah istrahat dan makan sore di Kasipute. Kami juga melewati Kawasan Taman Nasionan Rawaopa. Kawasan ini jalannya sangatlah bagus dan di kawasan inilah tempat jelah jonga (Rusa) tersebar. Panjang jalan Taman Nasional ini sekitar 22 km. Setelah melewati gerbang keluar kawasan taman nasional kami disambut dengan jalanan yang berlubang dan berdebu karena sudah memasuki daerah Tinanggea Kabupaten Konawe Selatan.

rawaopa

Sekitar pukul 17.00 Wita kami tiba di Ibukota Kab. Konawe Selatan tepatnya di Kel. Andoolo dan tempat ini memang masih dalam tahap pembangunan pusat perkantoran pemerintahan setempat. Tempat disini termasuk sepi dan senyap hehehe… Dan alhamdulillah sekitar pukul 20.00 kami tiba di mess Kendari dan beristirahat setelah perjalanan sekitar 196 km. Keesokan harinya, Senin saatnya masuk kerja dan kami berangkat pagi kembali ke Kab. Konawe.

Alhamdulillah akhirnya perjalanan ini bisa kami lalui dengan kendala yang sedikit. Dan sangat memuaskan bisa melakukan touring yang berjarak tempuh sekitar 526 km menurut perhitungan yang tertera di speedometer. Walau serba mendadak dan pakaian seadanya malah celana kantor masih kepake namun perjalanan ini tetap dilaksanakan. Memang benar juga sih, selama kita berada di daerah orang lain maka masalah jarak tak jadi persoalan untuk mengexplore kekayaan alam daerah perantauan kami mumpung masih disini sebelum balik tugas ke kampung halaman #salamucok 😀