Ritual Shalat Jumat di Masjid Keraton Buton

146 views

Kebetulan banget nih saat ini saya lagi bertugas di Kota Baubau dan hari jumat yang lalu saya pernah melaksanakan sholat jumat di salah satu bangunan peninggalan sejarah kesultanan Buton yakni Masigi Keraton yang kini lebih dikenal dengan nama Masjid Agung Keraton Buton. Masjid yang terletak di dalam areal Benteng Keraton Buton ini terletak di Kota Baubau dan memang menjadi salah satu andalan tempat wisata religi di daerah ini. Berhubung kali ini temanya local flavour maka sekarang saya mau cerita nih tentang ritual sholat jumat di masjid keraton buton dan tulisan ini diikutkan pada 8 Minggu Ngeblog bersama Anging Mammiri, minggu kedua.

Balik lagi nih, sholat jumat di masjid ini memang lain daripada yang lain alias unik dan baru pertamakali saya liat adanya ritual yang dilakukan oleh para pengurus masjid saat sholat jumat dilaksanakan. Waktu kemarin tuh saya disaranin sama temen supaya lebih cepat berangkat ke masjid agar kebagian tempat karena memang banyak sekali orang yang melaksanakan sholat jumat di masjid ini (biasanya waktu di makassar kan rumahku dengan masjid al markaz dekat jadi klo mau shalat jumat nunggu adzan dulu baru berangkat hehehe *ketahuan malasnya #upzz).

Dan memang beneran saya datang saja tuh motor dan mobil udah memenuhi tempat parkir masjid dan banyak sekali orang yang datang. Sebelum masuk tuh saya liat-liat dulu tuh sekitaran masjid dan bangunan masjid berbentuk Bangunan segi empat berbentuk tumpeng dan katanya mampu menampung jamaah hingga 500 orang. Sebelumnya nih saya nanya sm temen yg dampingin kalo Masigi Keraton ini dibangun berdasarkan arsitektur sederhana namun setiap komponen bangunannya sarat dengan simbol yang kaya akan makna. “Rangka masjid ini menggunakan 313 potongan kayu, sama banyaknya dengan jumlah tulang rangka manusia, serta dilengkapi 12 pintu dan jendela sebagai simbol jumlah lubang dalam tubuh manusia, seperti lubang hidung, telinga, mata, mulut, dan seterusnya” <-- penjelasannya temanku yg bertanya dengan orang sekitar pake bahasa buton hehehe...

Nah, terus mana ritualnya manaaaa??? penasaranki pemirsa hehehe. Sebelumnya saya mau bilang kalo memang saat mau masuk masjid saja sudah gimana gitu, kesan sakral masjid ini berasa sekaliii. Mau masuk masjid saja saya bingung soalnya di pintu masjid tuh ada dua orang yang duduk bersila dan menggunakan pakaian adat khas buton dan didepannya terkumpul banyak uang mulai pecahan ribuan hingga puluhan ribu. Dalam hati saya mikir masa saya kasih juga uang nih orang kan didalam masjid biasanya ada kotak amal juga. Jadi, saya mutuskan aja langsung masuk dan mengambil saf dibagian tengah. Pada saat mau masuk saja sy sudah bingung dengan tingkah laku dua orang bak penjemput tamu apalagi mau masuk tuh ternyata di tengah saf itu dihamparkan kain putih alias kain kafan. Kalo acara-acara artis biasa kan pakai karpet merah, inikah dari pintu masuk masjid sampai saf terdepan tuh kain kafan yang dibentangkan selebar setengah meter (klo tidak salah, kah tidak sempatka bawa penggaris bla hehehe). Setelah menyelesaikan sholat sunnah, saya masih melirik ke belakang karena penasaran sebenarnya dua orang penjemput tamu tadi maksudnya apa…

Tak lama kemudian ada seorang bapak tua yang datang dan langsung berjabat tangan dengan penjemput tamu tersebut dan ternyata penjemput tamu itu mulutnya komat kamit seperti membaca doa (tak taulah doa apa yang diucapkan) dan setelah itulah duit dari salam tempel tersebut dimasukkan dalam kumpulan uang yang diletakkan didepannya. Hhhmmmm, ternyata ini toh maksudnya. Jadi dua orang itu semacam juru doa dan orang yang didoakan memberi uang seikhlasnya. Saya juga penasaran itu uang diapain yah nantinya karena klo diliat dan dihitung kasar sih lumayan juga nilainya hehehe……

Sambil menunggu waktu sholat jumat tuh, orang-orang pada mulai banyak berdatangan. Diantara beberapa orang tersebut ada yang menggunakan pakaian adat khas buton dan banyak juga yang berpakaian putih putih (bukan pocong nah, tp masih manusia ji hehe) dan herannya mereka membawa semacam tongkat. Ada seseorang tuh sebelum dia ke menuju ke depan mimbar, dia melakukan shalat sunnah terlebih dahulu kemudian melangkahkan kakinya di sepanjang kain putih menuju saf terdepan.

Dan seperti biasa, sebelum adzan dikumandangkan terlebih dahulu pengurus masjid mengumumkan kondisi keuangan masjid. Nah, saat pengumuman udah selesai nih kan biasanya seseorang yang bertugas mengumandangkan adzan akan berdiri, tapi dimasjid ini dan hanya dimasjid ini baru saya lihat bukan satu orang yang berdiri tapi empat orang yang semuanya berpakaian putih-putih berdiri sejajar dan merapatkan barisan untuk memulai secara bersama-sama mengumandangkan adzan. Saya sampai heran sendiri, barusan liat empat orang yang adzan dan memang ini sudah termasuk ritual sholat jumat di masjid ini.

Setelah adzan tuh kan khatib mulai masuk tuh dan tak seperti di masjid lain yang langsung aja menuju mimbar tapi khatib yang akan membawakan ceramah di masjid ini juga berpakaian putih-putih dan kalau saya perhatikan memang disini juga terlihat ada ritual yang dilakukan oleh sang khatib karena langkah kakinya seperti diperhitungkan mengikuti arah tertentu yang menuju mimbar masjid. Dan untungnya sih ceramahnya masih banyak menggunakan bahasa indonesia sambil diselipin bahasa buton. Tak seperti yang pernah saya dengar waktu sholat jumat di Pinrang yang mayoritas menggunakan bahasa bugis atau waktu di takalar yang menggunakan bahasa makassar.

Selebihnya tuh setelah ceramah seperti halnya di masjid lain mulai dilakukan sholat jumat dan seterusnya udah sama dengan yang biasa dilakukan di masjid lain. Nah, setelah melakukan sholat jumat ini saya nggak langsung pulang tapi masih menyempatkan diri dan sedikit memaksa temen yang sedikit bisa berbahasa buton untuk bertanya-tanya dengan pengurus masjid. Dan ternyata ritual sholat jumat ini sudah dilakukan mulai dari pagi hari.

Mengutip dari pembicaraan kami tuh yang diselingi terjemahan dari temen bahwa memang hari jumat Hari Jumat adalah saat tersibuk bagi para anggota dewan masjid. Pada hari itu, bedug akan dipukul sebanyak lima kali, sejak pukul enam pagi, hingga pukul sebelas, yakni menjelang salat Jumat. Petugas pemukul bedug disebut tungguna ganda, tidak boleh melebihi atau mengurangi jumlah pukulan, dan irama yang telah ditetapkan. Pakaian mereka merupakan kain tenun khas Buton. Berbeda dengan lakina agama dan petugas lain yang memakai pakaian berwarna putih. Berarti yang saya lihat tadi tuh semuanya adalah pengurus masjid keraton ini.

Ada banyak kebiasaan yang menjadi hal istimewa dari masjid ini. Seperti hasil pembicaraan kami tuh menjelang salat, para pengurus masjid datang dan menyandarkan tongkat jabatannya, berderet di tempat khusus. Tongkat tampaknya mewakili sesuatu yang penting. Tongkat khusus untuk pengkotbah, diikat sejajar tiang mimbar. Berarti memang bener kan ada ritual khusus tuh yang saya lihat dan memang Kesan sakral tampak kuat dalam ritual sebelum salat dimulai. Ritual sebelum salat dimulai terlihat rumit, namun semua yang dilakukan merupakan tradisi turun temurun, yang penuh dengan makna simbolis. Makna yang dicoba untuk dipertahankan demi nilai-nilai luhur bagi orang Buton.

Ada yang belum sempat saya tanyain sih mengenai duit yang dikumpulkan para penjemput tamu itu, sapa juga yang mau nyinggung masalah duit, kan sensitif banget tuh. Tapi klo menurut penjelasan orang yang kami temui itu pastilah duit itu nggak akan disalahgunakan soalnya kan mereka pengurus masjid dan pengurus masjid keraton ini nggak sembarangan karena beban mereka cukup berat hehehe. Wahhhh, inilah seninya kalo kita lagi dikampungnya orang jadi bisa lebih kenal kebiasaan dan keunikan dari kebudayaan daerah setempat yang mungkin saja nggak ada di tempat lain hehehe #salamucok 😀