Keputusan Besar Penentu Masa Depan (2)

77 views

Saya pun bertanya sama Mili, kamu yakin tidak sama saya?? Mili pun menjawab Insya Allah dia yakin. Tapi Mili juga bilang kalau saya belum yakin jangan dipaksakan. Alhamdulillah perkataan ini cukup menenangkan diri saya, tinggal saya yang harus menentukan mau tetap ingin taarufan atau mau langsung melamar??

Tak terasa juga kami cukup lama bersama di warung itu dan saya pun mengatakan kalau keputusan mau dibawa kemana hubungan ini akan saya pastikan sebentar habis maghrib saya mau datang ke rumah karena rencananya saya mau menjemput tante saya di rumahnya tantenya Mili sehabis mereka pengajian. Kami pun keluar dari warung dan saya sempat memboncengnya sampai depan puskesmas. Dan saat turun dari motor Mili langsung bersalaman dan mencium tangan saya. Kaget juga tapi dalam hati senang sekali rasanya. Dari bersalaman itu saya juga jadi bisa merasakan telapak tangannya yang kasar. Dalam hati saya bergumam kalau mungkin Mili ini perempuan yang suka kerja rumahan hehehe….

Setelah berpisah saya pun melanjutkan perjalanan ke arah Kota Maros karena saya ingin ziarah kubur orangtua saya maklum besok saya sudah harus balik ke Kendari. Dalam perjalanan saya kepikiran terus apa yang harus saya lakukan, keputusan apa yang harus saya ambil. Saya pun singgah di Masjid Al Markaz Maros untuk melaksanakan Sholat Dzuhur sekalian mau sholat istikharah juga meminta petunjuk Allah SWT.

Habis sholat pas di parkiran saya pun menelpon Tante Pida menanyakan keberadaan Om Basri karena saya mau membicarakan hal ini kepada mereka yang juga wali saya. Sesampainya di rumah kebetulan Om Basri sudah pulang dari ngajar di sekolah. Sebenarnya saya malu sekali dan perasaan saya berdebar bertemu mereka. Saya pun mengatakan kepada mereka kalau saya sudah bertemu dengan Mili dan saya mau om dan tante sebagai wali saya untuk pergi ke rumahnya ketemu dengan tante dan omnya mili menyampaikan niat baik secara resmi untuk melamar Mili.

Mereka cuma bertanya apakah saya memang sudah yakin sama Mili? Apakah saya betul2 suka? Karena kata Om Basri kalau saya memang suka pasti ada perasaan yang memang kita rasakan dalam hati yang tak bisa dijelaskan. Saya pikir memang nggak bisa dijelaskan karena perasaan saya waktu mendengar cerita Mili tentang pria lain itu rasanya saya tidak rela dan tidak mau Mili bersama dengan pria lain. Maka satu2nya cara yah pergi melamar duluan karena kebetulan niat baik ini sudah disampaikan duluan tantenya Mili ke orangtuanya Mili secara tidak resmi.

Terus mereka bertanya kalau saya sudah punya modal nggak untuk menikah. Saya cuma menjawab Insya Allah sudah ada karena saya juga sudah menyiapkan tabungan untuk menikah. Perihal cukup tidaknya urusan belakangan karena menurutku kalau niat kita baik pasti dimudahkan olehNya. Dalam hati saya cuma bilang kalau saya ini modal nekat hahahaha……

Alhamdulillah om dan tante cuma bilang kalau memang sudah suka dan yakin nanti kita datang ke keluarganya Mili untuk menyampaikan niat baik kita ini. Saya pun langsung mengajak om dan tante sebagai wali saya pergi ke rumahnya tantenya Mili kebetulan tante Rahma mau dijemput. Sebenarnya rencananya saya sendiri yang mau jemput cuma karena ada keputusan mendadak yah jadinya saya nggak ngasih tau tante Rahma kalau saya bersama tante Pida dan Om Basri langsung ke rumahnya tantenya Mili. Itung2 ngasih kejutan juga hehe…

Setelah habis maghrib saya, om Basri dan tante Pida sudah tiba di rumahnya tantenya Mili. Sayapun langsung ngetok pintu dan tante Rahma yang buka sendiri pintunya. Tante Rahma nanya kalau saya datang sama siapa. Saya jawab aja sama teman padahal tante Rahma kaget juga kalau om Basri dan tante Pida ngikut dibelakang hehe. Tak lama juga sudah ada tante dan omnya Mili. Kami berkumpul di ruang tamunya. Biasalah namanya baru ketemuan antar keluarga yah nanya jawab masalah kerjaan, asal daerah, masa sekolah dan kuliah. Lama juga mereka bercakap-cakap, saya lebih banyak diam dan sesekali saja menjawab dan tersenyum kalau sudah menyinggung tentang hubungan saya dan Mili.

Tak terasa waktu semakin malam dan inti pembicaraan belum juga tersampaikan. Sampai pada saat sudah suasananya mau pulang Om Basri pun bertanya kepada om dan tantenya Mili kalau dimana kami harus menyampaikan niat baik keluarga kami yang ingin melamar Mili karena katanya saya dan Mili sudah sama-sama yakin. Omnya pun berkata kalau niat baik kami ini akan disampaikan terlebih dahulu kepada orangtuanya Mili. Nanti kalau sudah ada jawaban baru keluarga kami dikabari. Cuma tante Pida berkata kalau memang kami sudah disuruh datang untuk melamar kalau bisa tempatnya di Makassar saja dan waktunya malam mengingat Om Basri dan tante Rahma orang kantoran dan kegiatannya cukup padat juga. Tantenya Mili pun berkata kalau permintaan kami ini akan disampaikan ke orangtuanya Mili langsung perihal acara lamaran ini karena mau nggak mau orangtuanya juga yang menentukan sukses tidaknya acara lamaran ini.

Alhamdulillah setelah niat baik ini tersampaikan, kami pamit pulang. Di perjalanan tante Rahma berkata kalau rencana saya ini sudah bagus karena sudah ada arah tujuan hubungan saya dan Mili. Saya pun cuma berkata kalau saya ini modal nekat dan memang tujuan saya ke Makassar yah cuma mau memastikan mau dibawa kemana hubungan saya dengan Mili dan saya harus ambil keputusan besar dalam hidup saya kedepannya. Cuma saya pikir-pikir juga kok kayaknya semuanya terasa dipercepat saja. Ahh kalau memang saya berjodoh dengan Mili insya Allah akan dimudahkan dan dilancarkan semuanya yang penting saya sudah berusaha hihihi…. #salamucok 😀